Legiun SELAM Inspirator Lahirnya TRITONA Komunitas Sepak Bola Akar Rumput di Lembata
Lembata, Tritona.id - Kabupaten Lembata sejak dari dulu bergabung dengan Flores Timur dan otonomi mandiri sebagai Kabupaten Lembata sudah menorehkan sejarah kususnya bidang olahraga sepak bola dengan lahirnya pemian – pemain ternama di tingkat lokal, nasional dan bermain di beberapa negara – negara Asia dan saat ini memiliki pemain - pemain dan club yang berkwalitas dan disegani oleh masyarakat sepak bola di luar Kabupaten Lembata. Para tokoh insiprator berdirinya klub bola kaki TRITONA FC dan Sekolah Sepak Bola (SSB) TRITONA Bakalerek adalah para legiun Klub Bola SELAM yang lahir di Tahun 1950 sampai 1980an yang telah meletakan dan menorekan sejarah panjang di dunia sepak bola sekalipun ditingkat desa dimasa lampau sejak era perjuangan kemerdekaan dan kemerdekaan Republik Indonesia saat kampung tua Liwor menjadi bagian dari haamente Lamalera(*pengakuan Almaruh PB Keraf, Almarum Andreas Kiwan Wutun, Bapak Wilhelmus Batu Wuwur mantan kepala Desa Baolangu 32 Tahun bukti dokumentasi ada tersimpan)dan saat Bakalerek Kampung Lama menjadi Dusun dibawa Desa Baolangu sebuah komunitas masyarakat dan desa gaya baru era Kemerdekaan dalam Kecamatan Lebatukan, perjalanan semangat sepak bola itu melahirkan pemain junior Klub SELAM yang muncul di Tahun 1970 – 1980 yang punya catatan prestasi gemilang dengan ikut serta dalam ajang turnamen antar kampung dengan beberapa prestasi seperti melawan klub – klub tua di Ileape, Kedang, Atadei.
Masyarakat Desa Bakalerek Kecamatan Nubatukan Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kehidupan sosial secara Antropologis masyarakatnya yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat sejak dari Liwor Kampung Moyang berpindah ke kampung lama Bakalerek yang berbaur dengan kehidupan social yang dikenal sebagai kantong produksi untuk beberapa wilayah di Pulau Lembata menjadi jalur perdagangan, daerah transit, tapak jejak, dan persinggahan serta perlintasan orang – orang(jalur ekonomi/sutra) rantai pasok masyarakat desa – desa yang ada di wilayah selatan pulau Lembata atau sebaliknya. Bakalerek yang dulunya bergabung dengan Desa Baolangu dan sekarang berpindah kepemukiman baru Bakalerek yang dilakukan secara bertahap sejak Tahun 1950an(*pondok – pondok masyarakat kampung lama Liwor Bakalerek di Baulerek, Nama, dan sekitarnya) dan pada Tahun 60an mulai bergerak dan berjuang memisakan diri sebagai Desa Bakalerek yang berdiri sendiri secara mandiri.
Bawahasanya Kabupaten Lembata sejak dari dulu bergabung dengan Flores Timur dan otonomi mandiri sebagai Kabupaten Lembata sudah menorehkan sejarah kususnya bidang olahraga sepak bola dengan lahirnya pemian – pemain ternama di tingkat lokal, nasional dan bermain di beberapa negara – negara Asia dan saat ini memiliki pemain - pemain dan club yang berkwalitas dan disegani oleh masyarakat sepak bola di luar Kabupaten Lembata. Para tokoh insiprator berdirinya klub bola kaki TRITONA FC dan Sekolah Sepak Bola (SSB) TRITONA Bakalerek adalah para legiun Klub Bola SELAM yang lahir di Tahun 1950 sampai 1980an yang telah meletakan dan menorekan sejarah panjang di dunia sepak bola sekalipun ditingkat desa dimasa lampau sejak era perjuangan kemerdekaan dan kemerdekaan Republik Indonesia saat kampung tua Liwor menjadi bagian dari haamente Lamalera(*pengakuan Almaruh PB Keraf, Almarum Andreas Kiwan Wutun, Bapak Wilhelmus Batu Wuwur mantan kepala Desa Baolangu 32 Tahun bukti dokumentasi ada tersimpan)dan saat Bakalerek Kampung Lama menjadi Dusun dibawa Desa Baolangu sebuah komunitas masyarakat dan desa gaya baru era Kemerdekaan dalam Kecamatan Lebatukan, perjalanan semangat sepak bola itu melahirkan pemain junior Klub SELAM yang muncul di Tahun 1970 – 1980 yang punya catatan prestasi gemilang dengan ikut serta dalam ajang turnamen antar kampung dengan beberapa prestasi seperti melawan klub – klub tua di Ileape, Kedang, Atadei.
Masyarakat Desa Bakalerek Kecamatan Nubatukan Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kehidupan sosial secara Antropologis masyarakatnya yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat sejak dari Liwor Kampung Moyang berpindah ke kampung lama Bakalerek yang berbaur dengan kehidupan social yang dikenal sebagai kantong produksi untuk beberapa wilayah di Pulau Lembata menjadi jalur perdagangan, daerah transit, tapak jejak, dan persinggahan serta perlintasan orang – orang(jalur ekonomi/sutra) rantai pasok masyarakat desa – desa yang ada di wilayah selatan pulau Lembata atau sebaliknya. Bakalerek yang dulunya bergabung dengan Desa Baolangu dan sekarang berpindah kepemukiman baru Bakalerek yang dilakukan secara bertahap sejak Tahun 1950an(*pondok – pondok masyarakat kampung lama Liwor Bakalerek di Baulerek, Nama, dan sekitarnya) dan pada Tahun 60an mulai bergerak dan berjuang memisakan diri sebagai Desa Bakalerek yang berdiri sendiri secara mandiri.